Mitra / Kerjasama

Login Form

Saat ini Online

We have 33 guests and no members online

Yuk, kita peduli Pendidikan karakter (2)

Oleh : Ina Widya.

Sebelum kita peduli pendidikan karakter, sebaiknya kita tahu dulu apa dan bagaimana sebetulnya pendidikan karakter dan apa bedanya dengan pendidikan budi pekerti.

Salah satu tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia cerdas yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia. Tapi mengapa pada era atau pada jaman imperialisme budaya saat ini, tingkat kriminalitas anak-anak dan remaja sangat tinggi dan  jumlah mereka yang masuk penjara lebih dari satu juta orang (Harry Hikmat, Direktur Anak Depsos, Waspada, 11 Maret 2009). Mengapa pula banyak anak remaja kita tidak merasa bersalah jika berbohong, rendah rasa hormat kepada ortu dan guru, pecandu narkoba dan minuman keras, sering bolos sekolah, tidak mengerjakan PR , memalak teman sekelas dan sebagainya. Dan lebih jauh lagi mengapa pendidikan yang kini tumbuh berkembang dengan pesat, justru berefek melahirkan banyaknya koruptor. Memang tidak semua koruptor, tetapi mereka-mereka para pelaku korupsi justru orang-orang yang pada umumnya sudah menyandang berbagai gelar pendidikan.

Banyak kalangan yang  mengkritik dan menilai bahwa pendidikan nasional telah gagal dalam membentuk watak/karakter dan moral anak bangsa. Mereka menganggap lembaga pendidikan baik formal maupun nonformallah yang  seharusnya paling bertanggung jawab dalam hal membentuk, membimbing dan mendidik SDM yang tangguh dan unggul sekaligus punya karakter yang kuat.

Betulkah lembaga pendidikan di Indonesia secara umum gagal dalam membentuk budi pekerti yang luhur, gagal dalam melahirkan anak bangsa yang berkepribadian  atau bermoral? Selama ini upaya untuk membentuk budi pekerti yang luhur di sekolah-sekolah bukannya tidak dilakukan. Hanya saja metodeloginya masih belum effektif. Pendidikan moral dan budi pekerti baru bersifat knowing. Budi pekerti yang luhur, moral ataupun kepribadian yang baik baru bersifat pengetahuan dan belum menjadi karakter yang melekat pada diri siswa.

Sebagai orang awam, terkadang  kita sulit membedakan  pendidikan budi pekerti yang selama ini diterapkan di sekolah-sekolah dengan pendidikan karakter yang sekarang sedang digalakkan oleh ibu Ratna Megawangi, sang pelopor pendidikan holistik berbasis karakter. Oleh karena itu, sebaiknya kita melihat dulu apa yang disebut pendidikan budi pekerti.

Menurut Dr. Syarkawi, M.Pd. dalam bukunya “Pembentukan kepribadian Anak “menyatakan bahwa pendidikan budi pekerti adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Nilai-nilai positif dan yang seharusnya dimiliki seseorang menurut ajaran budi pekerti yang luhur adalah amal saleh, amanah, antisipatif, baik sangka, bekerja keras, beradab, berani berbuat benar, berani memikul resiko, berdisiplin, berhati lapang, berhati lembut, beriman dan bertkwa, berinisiatif, berkemauan keras, berkepribadian, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersifat konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdas, cermat, demokratis, dinamis, efisien, empati, gigih, hemat, ikhlas, jujur, kesatria,  komitmen, kooperatif, kosmopolitan (mendunia), kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, manusiawi, mawas diri, mencintai ilmu, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai pendapat orang lain, menghargai waktu, patriotik, pemaaf, pemurah, pengabdian, berpengendalian diri, produktif, rajin, ramah, rasa indah, rasa kasih sayang,rasa keterikatan, rasa malu, rasa memiliki, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, semangat kebersamaan, setia, siap mental, sikap adil, sikap hormat, sikap nalar, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, taat asas, takut bersalah, tangguh, tawakal, tegar, tegas, tekun, tepat janji, terbuka, ulet, dan sejenisnya.

Budi pekerti erat hubungannya dengan kepribadian. Dengan kepribadian yang baik, seseorang dapat mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung pada budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Atau sebaliknya, dengan menanamkan nilai-nilai pendidikan budi pekerti yang baik sejak dini, akan membantu pembentukan kepribadian yang berbudi pekerti luhur.

Setelah pendidikan nasional dianggap gagal dalam membentuk budi pekerti yang luhur atau lebih tepatnya sekolah-sekolah belum seluruhnya berhasil melahirkan anak-anak yang berbudi pekerti luhur dengan nilai-nilai yang berderet-deret di atas, maka harus ada yang perlu diubah yaitu bagaimana pendekatan, metode dan strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan mulia tersebut. Karena  hal inilah yang sesungguhanya menentukan efektivitas dan efisiensi pembentukan kepribadian anak manusia.

Seorang perempuan Indonesia yang cerdas dan berkarakter kuat, Ibu Dr. Ir Ratna Megawangi M.Sc, telah melakukan sebuah perubahan besar  dalam proses pembelajaran budi pekerti di sekolah dengan melahirkan konsep pendidikan holistik berbasis karakter. Seluruh nilai-nilai budi pekerti di atas dirangkum dalam “Sembilan pilar karakter emas“- nya melalui pendekatan, metodelogi dan strategi  “knowing the good, feeling the good/loving the good, acting the good”.

Pendiri dan direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation yang mengelola hampir 100 sekolah karakter di berbagai penjuru tanah air ini menyatakan bahwa  pendidikan karakter adalah sebuah proses/usaha untuk mengembangkan semua potensi anak menjadi manusia seutuhnya. Perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademiknya maupun segi sosial dan emosinya. Ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari aktivitas belajar dengan cara membaca, menulis, menghafal dan lain-lain sedangkan perbuatan/sikap/perilaku yang baik dapat diraih dengan selalu berlatih/aktion dan selalu membiasakannya dalam setiap kegiatan/aktivitas sehari-hari.

Ringkasnya menurut si Ibu, pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan effektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan”. Pendidikan karakter menjadi berbeda dengan pendidikan moral/budi pekerti karena pendidikan budi pekerti hanya terfokus pada pengetahuan tentang moral/nilai-nilai luhur (hanya menekankan aspek kognisi). Kurikulum pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian siswa yaitu pribadi yang bijaksana, terhormat, dan bertanggung jawab yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata.

Lewat Yayasan Warisan Luhur Budi (Indonesia Heritage Foundation) yang didirikan tahun 2001, Ratna Megawangi dan suaminya Dr. Sofyan Djalil,S.H.,M.A.,MALD bersama teman-temannya menuangkan sebuah idealisme, mimpi dan harapan besar bahwa suatu saat Bangsa Indonesia akan berjaya sebagai bangsa yang berkarakter kuat.

Kita  berharap agar mimpi Ibu Ratna, mimpi kita dan teman-teman pendidik dapat terwujud. Semoga Pemerintah era 2009-2014 mampu mengembalikan fungsi pendidikan, yaitu tidak untuk membangun kecerdasan intelektual saja, tetapi juga untuk menjadikan manusia Indonesia berkarakter mulia dan menjadikan pendidikan karakter sebagai prioritas utama dalam pembangunan bangsa. Idealnya substansi pendidikan karakter bangsa termuat dalam UU Diknas.

Sumber :

    * Ensiklopedia tokoh Indonesia
    * Harian umum Pelita (Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa)
    * Iman Sofyani (Pendidikan Karakter Anak Sejak Dini)
    * H.M.Farid Nasution.MA (Pendidikan Gagal Membentuk Karakter Bangsa)
    * Dr.Sjarkawi,M.Pd. (Pembentukan Kepribadian Anak)
    * Doni Koesoema (Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global)
    * Russell T. Williams/ Ratna Megawangi (Kecerdasan Plus Karakter)