Yuk, Kita Peduli Pendidikan Karakter (3)

Category: Pendidikan
Published on Friday, 10 July 2009 15:41
Written by Ina Widya
Hits: 6752
Oleh  : Ina Widya

Secara umum pendidikan karakter memang belum menjadi proritas utama dalam pembangunan bangsa dan belum diterapkan secara holistik  dalam kurikulum Pendidikan Nasional. Namun dengan adanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru-guru memiliki peluang besar untuk menerapkan pendidikan karakter ke dalam masing-masing satuan pendidikan, karena :
  1. Dalam glosarium (Puskur2006) pengertian KTSP didefinisikan sebagai kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Salah satu prinsip pengembangan KTSP di antaranya kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip yang berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
  2. Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia , serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikutu pendidikan lebih lanjut.
  3. Konsep pendidikan karakter terbaca dalam rumusan yang telah dibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)  yaitu : Pendidikan yang mengintegrasikan semua potensi anak didik, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Jika kita ingin agar program pendidikan karakter (kepribadian, akhlak mulia ) berjalan dengan baik dan efektif dibutuhkan guru-guru kreatif yang dapat menerapkan konsep pendidikan karakter tersebut dalam proses belajar mengajar secara holistik  melalui pendekatan, metode dan strategi yang tepat.

Karena nilai-nilai akhlak mulia harus menjadi watak/karakter yang bertumbuh menjadi identitas seseorang dalam bersikap dan bertindak maka dibutuhkan proses internalisasi nilai-nilai,   untuk itu diperlukan pembiasaan diri agar masuk ke dalam hati sendiri sehingga  bertumbuh  dari dalam. Gerakan tersebut dapat dianalogikan dengan “kembali ke rumah”. Hati manusia itu bagaikan rumah (home). Maka sungguh penting kita kembali ke rumah sebagai pusat dan sumber energi segala aktivitas. Hanya dengan kondisi seperti itu  pendidikan akan berhasil mematangkan dan mengokohkan karakter-karakter dasar.

Selain itu , kita harus memiliki parameter untuk mengukur berhasil tidaknya sebuah program pendidikan karakter. Yang dinilai dalam pendidikan karakter, terutama adalah perilaku bukan pemahaman.

Sejujurnya upaya untuk mengembangkan sistem pendidikan karakter terbentur pada sebuah kenyataan bahwa aspek pengetahuan lebih dimungkinkan untuk diukur secara obyektif. Pengukuran terhadap sikap serta perilaku lebih sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu dibutuhkan guru yang cerdas, kreatif, memiliki integritas dan komitmen yang tinggi.

Sudah waktunya guru-guru meninggalkan metode lama mengajar yang hanya sekadar melaksanakan tuntutan tugas dan mengejar target kurikulum  semata, sehingga tidak memiliki idealisme menjadi seorang pendidik. Tinggalkan mengajar tanpa dilandasi hakikat dari mengajar itu sendiri. Guru dituntut untuk kembali seperti yang Ki Hajar Dewantara katakan yakni seorang yang ing ngarso sing tulodo, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. Guru yang bukan hanya mengajar, tapi juga mendidik.

Dari uraian di atas kita menyadari bahwa menerapkan pendidikan karakter di sekolah bukan hal yang mudah, karena harus merubah paradigma dan cara berpikir. Kemudian butuh waktu , tenaga, biaya peningkatan kualitas guru dan pemikiran-pemikiran.  Serta yang paling penting butuh keterlibatan dari semua pihak, manajemen sekolah, guru, orang tua murid, lingkungan dan masyarakat. Namun optimisme selalu ada, jika kita semua peduli Pendidikan Karakter. Barangkali sebaiknya sejak sekarang kita canangkan : “ Gerakan Peduli Pendidikan Karakter (GPPK) “.

Yayasan Pupuk Kaltim telah melaksanakan pendidikan karakter melalui program “PEMBIASAAN” di TK YPK namun program ini masih harus disempurnakan. Untuk menyempurnakannya sudah dilaksanakan seminar dan pelatihan Pendidikan Berbasis Karakter oleh Ibu Ratna Megawangi. Program pendidikan holistic berbasis karakter ini akan diterapkan mulai tahun ajaran 2009 – 2010  di Taman Kanak-kanak (TK). Kemudian melalui KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), dengan kreativitas dan kualitas manajemen/guru-guru YPK, program ini akan dilanjutkan di tingkat SD kelas 1 dan kelas 2, sampai akhirnya ke seluruh jenjang pendidikan di YPK.

Semoga , amanah pendidikan yang dibebankan pada pundak kita sebagai pendidik dimaknai sebagai investasi jangka panjang. Investasi akhirat ketika anak-anak kita berhasil menjadi manusia yang mempunyai nilai-nilai moral yang akan membentuk karakter berupa akhlak mulia yang di dalamnya ada campur tangan kita. Amiin.

Sumber : Pendidikan Karakter (Yong Ohoitimur MSC)/ Character building ( Mochtar Buchori)/Pengembangan karakter (Doni Koesoema)/Membangun Karakter dan Watak Bangsa Melalui Pendidikan (Drs .Bambang Nurokhim)/Warnai KTSP denga Pendidikan Karakter (Asep Kusnawan).