UNIT-UNIT

Mitra / Kerjasama

Login Form

Saat ini Online

We have 6 guests and no members online

Model Pembelajaran CTL

Model Pembelajaran CTL untuk Meningkatkan dan Mengembangkan Pemahaman  Materi Pubertas
di Kelas VI SD 2 Yayasan Pupuk Kaltim Bontang

Oleh : Winahyu R.Y.

       
    Teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan pesat. Berbagai informasi dari berbagai penjuru dunia sangat mudah diakses di era yang semakin global ini. Alat komunikasi yang beberapa tahun  terakhir merajai pasaran dunia adalah hand phone (HP).  HP dengan berbagai merk dan kelengkapan fasilitasnya begitu digandrungi banyak kalangan baik anak-anak, remaja (ABG), maupun orang dewasa. Demikian juga tumbuh dan berkembangnya stasiun televisi swasta di Indonesia di satu pihak menjadi kebanggaan tersendiri namun di lain pihak menimbulkan keprihatinan kita. Mengapa? Keprihatinan ini muncul karena  acara-acara televisi yang ditayangkan banyak yang tidak mendidik anak-anak kita. Banyak adegan “sekwilda” (sekitar wilayah dada) dan “bupati“ (buka paha tinggi-tinggi) serta acara-cara lain semacam sinetron yang menggiring anak bersikap konsumtif serta bergaya hidup mewah (glamour), hidup bebas tanpa memperhatikan norma-norma yang berlaku. Adegan-adegan demikian pasti akan berdampak negatif bagi perkembangan mental, sosial, dan fisik anak-anak. Belum lagi, tumbuhnya warnet-warnet bak jamur di musim hujan di mana anak-anak begitu mudahnya mengakses internet untuk memenuhi keingintahuan anak tentang alat reproduksi tanpa bimbingan orang tua/guru. Fasilitas-fasilitas yang terdapat di HP juga sangat memungkinkan anak-anak mengakses hal-hal yang belum layak untuk dilihat/diketahui. Oleh sebab itu tidak heran jika akhir-akhir ini banyak peristiwa yang kurang menyenangkan menimpa remaja-remaja kita seperti terlibat pergaulan/seks bebas, pecandu narkoba, MBA/hamil di luar nikah, pemerkosaan,
pencurian/perampokan dsb. Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi akibat pengaruh dari tontonan yang kurang menuntun anak-anak untuk menjadi pribadi yang baik.


           Pada masa pubertas ada perubahan-perubahan yang terjadi pada para remaja dengan adanya pengaruh kerja hormone-hormon tertentu. Perubahan terjadi pada aspek fisik, psikologi dan sosial. Hal ini sering menimbulkan perubahan perilaku yang semula anak manis menjadi anak yang sulit diatur bahkan anak yang bermasalah. Sementara itu para remaja belum bahkan tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang perubahan yang terjadi. Ketidak tahuan mereka disebabkan kurangnya pengetahuan orang tua atau orang tua memiliki pengetahuan pubertas tetapi mereka sangat sibuk bekerja. Tentu saja ini menimbulkan keprihatinan yang mendalam bagi para orang tua, pendidik, dan masyarakat umum. Sekolah sebagai lembaga pendidikan patut mencermati fenomena ini. Pemberian pengetahuan tentang masa puber (pubertas) kiranya dapat memberikan dasar dan modal yang kuat dalam menghadapi perubahan-perubahan internal maupun eksternal bagi remaja kita, sehingga dapat mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan. 


             Pengamatan penulis sebagai pendidik di SD 2 YPK menunjukkan bahwa siswa-siswi kelas VI banyak yang sudah mengalami mensturasi bahkan ada yang mengalaminya saat di kelas IV (usia 10 th). Secara umum memang 10 tahun terakhir ini ada kecenderungan remaja-remaja kita  mengalami mensturasi dini, juga mimpi basah dini dibanding remaja tempo dulu. Penyebabnya adalah faktor gizi yang semakin meningkat, serta faktor lingkungan seperti tayangan-tayangan yang merangsang libido seks mereka.


            Namun anak-anak yang mengalami mensturasi maupun mimpi basah belum memiliki pengetahuan  yang cukup baik seiring dengan adanya perubahan-perubahan yang dialaminya. Keadaan ini menarik untuk dikaji agar remaja-remaja kita merasa siap dan nyaman menghadapi masa-masa puber atau mengalami pubertas. Dengan demikian generasi penerus kita tidak jatuh pada kehidupan yang menyesatkan dan kita sebagai pendidik turut andil dalam menyiapkan generasi penerus yang berkualitas.


            SD 2 Yayasan Pupuk Kaltim, mayoritas siswanya adalah anak-anak karyawan Pupuk Kaltim. Tingkat sosial ekonomi siswa rata-rata  menengah ke atas, sehingga segala kebutuhan tercukupi baik kebutuhan primer, sekunder bahkan tertier. Hampir seluruh siswa memiliki hp, komputer/laptop, dan jaringan internet di rumahnya. Kondisi ini di satu pihak menguntungkan, namun satu pihak perlu kewaspadaan. Peranan guru dan orang tua agar dapat mengarahkan ke arah hal-hal positif dari fasilitas yang mereka miliki. Pemilihan model pembelajaran yang tepat dapat mendekatkan permasalahan siswa dengan solusinya. Model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning), dipilih dengan pertimbangan dapat menghubungkan antara materi pelajaran dengan situsi dan kondisi siswa kelas 6 yang sedang mengalami masa pubertas.

  

             Contextual Teaching and Learning atau pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep mengajar dan belajar yang membantu guru menghubungkan kegiatan dan bahan ajar mata pelajarannya dengan situasi nyata yang dapat memotivasi siswa untuk dapat menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari siswa sebagai anggota keluarga dan bahkan sebagai anggota masyarakat dimana dia hidup (US Department of Education, 2001).
Dari penyajian program  pembelajaran ini, ada beberapa temuan-temuan bermakna yang tampak dan berhubungan  erat  dengan pembelajaran dan pengajaran CTL yaitu:

  1. Cara belajar siswa aktif (CBSA): dengan bantuan LDS/LKS siswa mencari/melakukan  sendiri untuk mendapatkan data dan informasi tentang perubahan-perubahan fisik pada remaja yang mulai pubertas serta menjaga kebersihan kesehatan organ reproduksi, pengenalan norma-norma agama. Secara perorangan siswa putri  melakukan diskusi dengan ibu/kakak perempuan /ibu guru yang dipilihnya, sedangkan siswa putra dengan ayah/kakak laki/bapak guru yang dipilihnya.
  2.  Pendekatan ketrampilan proses (PKP): siswa diberi keleluasaan untuk memunculkan potensinya dalam mencari pengetahuan baru, dengan melakukan proses diskusi, presentasi kelas, wawancara .
  3. Pendidikan kecakapan hidup (Life skill education): siswa diberi bekal agar dapat mengurus dirinya sendiri (Belajar mandiri) misalnya menjaga kesehatan organ reproduksi, dapat membuat  jamu tradisionil mensturasi (jamu kunyit asem).
  4. Pengajaran autentik (autentics instruction): siswa secara nyata melakukan sendiri proses untuk mencari pengetahuan tentang alat-alat reproduksi wanita dan pria perubahan-perubahan fiisik saat pubertas berdasarkan petunjuk-petunjuk yang diberikan guru, dan bimbingan guru atau orang dewasa yang ditunjuk guru.
  5. Belajar berbasis inquiri (inquiri based learning): siswa akan mencari dan menemukan sendiri pengetahuan/ketrampilan yang diinginkan, siklus ini dimulai dari observasi-bertanya-hipotesa pengumpulan data penyimpulan.
  6. Belajar berbasis masalah (problem based learning): siswa mendapatkan pengetahuan bertitik tolak dari masalah yang dihadapinya yaitu adanya kerja hormon di masa pubertas yang diikuti perubahan fisik, emosi, pada akhirnya pengetahuan yang diperoleh sekaligus dapat memecahkan masalahnya.
  7. Belajar kooperatif (cooperative learning): siswa  merupakan makhluk sosial agar dapat saling bekerja sama antar satu dengan lainnya dalam menghadapi masalah. Pembagian kelompok kecil dengan kemampuan anggota kelompok yang berbeda, berbagi tanggung  jawab, saling berinteraksi dapat menyelesaikan tugas kelompok.           

      Penilaian dilakukan melalui dua tahap yaitu :

  1. Penilaian proses yaitu penilaian saat siswa melakukan proses pembelajaran . Penilaian ini meliputi: penilaian sikap ( afektif ) yang meliputi: perhatian selama kegiatan, sering bertanya/menyampaikan pendapat, ketepatan waktu mengumpulkan tugas, partisipasi dalam kelompok belajar.
  2. Penilaian hasil yaitu penilaian setelah, siswa selesai melakukan proses pembelajaran. 

          Penilaian ini meliputi:

  • penilaian hasil kerja siswa (produc test ) seperti: kliping, grafik.  
  • penilaian hasil pembelajaran, dalam bentuk pencil and paper test terdiri dari: pilihan ganda, uraian terstruktur, obyektif isian singkat. Dari penilaian yang dilakukan, didapatkan hasil  ketuntasan kelas 70%, ada efek nurturant ( pengiring ) terutama pada proses pembelajaran yaitu orang tua menjadi lebih dekat dan memperhatikan anak-anak dalam menghadapi masa pubertas .

      Demikian pengalaman penulis dalam menerapkan model CTL, semoga dapat menjadikan salah satu variasi pembelajaran Pubertas di sekolah dasar.

(Juara 3 Lomba Penulisan Inovasi Pembelajaran Kategori Guru SD dalam Rangka Hari Guru yang diselenggarakan Yayasan Pupuk kaltim November 2009)