UNIT-UNIT

Mitra / Kerjasama

Login Form

Saat ini Online

We have 95 guests and no members online

Tentang Hari-hariku di Kawah Candradimuka

Tentang Hari-hariku di Kawah Candradimuka

 

Semua berawal di hari itu. Di ruang wakasek sekolahku SMA YPK Bontang ada aku, 2 orang temanku, dan Pak Budi. Kami bertiga akan diseleksi untuk mengikuti pelatihan selama 2 bulan di Tangerang untuk persiapan World Physics Olympiad yang rencananya akan diadakan di Lombok, NTB. Salah seorang dari kami mengundurkan diri. Tidak kusangka, akulah yang lolos seleksi. Beberapa hari setelahnya, seleksi tingkat kota digelar. Bertemu teman (atau lawan) lama, rasanya sedikit pesimis. Aku memang tidak memiliki ambisi apapun dalam hal ini. Keajaiban terjadi untuk kedua kali, nilaiku tinggi, cukup jauh selisihnya dengan peringkat kedua. Well, siapkan mental untuk perjuangan keras selama 2 bulan.

Tiba di Tangerang, otakku dipenuhi berbagai pikiran. Mulai dari ketakutan akan teman-teman yang freak, jadwal yang padat, ataupun homesick. Ternyata, semua asumsi itu hilang seiring waktu. Teman-temanku di sini adalah orang-orang paling keren yang pernah kutemui. Jahil, seru, rendah hati, dan intelegensi bercampur jadi satu dalam diri mereka. Suasana asrama pun menyenangkan. Jadwal belajar yang tidak terlalu padat masih memberi kami kesempatan untuk futsalan, main game bola di komputer, bahkan jalan-jalan ke mall saat weekend. Keseruan yang takkan terlupakan. Sahabat-sahabat hebat yang takkan lepas dari ingatan.

Bagaimanapun juga, kami berkompetisi di sini. Kami digodok dalam Kawah Candradimuka. Ini bukan mengenai kepintaran, IQ, atau tetek bengek lainnya. Ini tentang usaha dan kerja keras. Kami menjalani pasang surut. Ada hari di mana motivasi kami terbakar membara, seakan tak ada kata letih belajar. Tetapi ada juga hari saat kami begitu suntuk belajar. Banyak faktor, seperti bosan, materi yang kelewat sulit, bahkan masalah antar teman atau penanggung jawab asrama.

2 bulan berlalu, kami tinggal menunggu hari menuju penentuan. Kami berpisah sementara. Ada yang pulang, ada yang menetap, ada juga yang berlibur. Aku kini hanya bisa terus berdoa dan berusaha sebisaku.

Tiba di Lombok, aku terdiam. Tak pernah kubayangkan aku bisa menginjakkan kaki di tempat ini. Tempat yang indah, yang juga nantinya akan menjadi memori terindah bersama sahabat-sahabatku. Olimpiade tingkat internasional ternyata memang belum jadi jalanku untuk raih prestasi. Aku kalah, bersama 43 orang sahabatku di pelatihan. Tak seorang pun dari kami meraih medali, maklum, saingan kami adalah anak-anak kuliahan dan juara-juara lomba tingkat internasional lainnya.

Hari-hari terakhir kami begitu indah sekaligus mengharukan. Mengenang masa-masa pelatihan, tawa jahil, dan kesenangan bersama. Perpisahan tentu penuh isak tangis. Aku sendiri tidak meneteskan air mata, secara visual tidak, namun dadaku menyesak.

Ini adalah pengalaman terindahku. Penuh ilmu baru, baik ilmu pengetahuan maupun ilmu kehidupan. Bertemu sahabat-sahabat dan guru-guru terhebat yang pernah kukenal. Menggoreskan memori indah di jiwaku yang terdalam.

 Warih Aji Pamungkas