UNIT-UNIT

Mitra / Kerjasama

Login Form

Saat ini Online

We have 50 guests and no members online

BERUBAHNYA PARADIGMA PEMBELAJARAN DALAM KTSP 2006

Berbicara tentang pembelajaran pasti tidak bisa melupakan filsafat pendidikan yang mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktik pembelajaran. Salah satu teori pembelajaran adalah aliran behaviouristik yang menekankan model hubungan Stimulus-Response. Dalam prakteknya siswa berada dalam posisi yang pasif, sehingga salah satu kelemahan aliran ini adalah siswa menjadi kurang mandiri. Fakta ini diakui Depdiknas sebagai salah satu kelemahan dari kurikulum-kurikulum sebelum KTSP 2006. Maka pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 praktik kependidikan ditekankan pada teori kognitif-konstruktivis yang memberi penekanan pada aktivitas siswa. Aktivitas siswa menjadi unsur terpenting dalam menentukan kesuksesan belajar.

Berikut ini perbandingan pembelajaran menurut aliran behaviouristik pada kurikulum sebelum KTSP dan aliran kognitif-konstruktivistik yang digunakan dalam KTSP 2006.

 

 

Behaviouristik

 

Kognitif-Konstruktivistik

Pengetahuan dipandang bersifat obyektif, pasti, tetap (tidak berubah) pengetahuan telah terstruktur rapi 
Pengetahuan dipandang bersifat non obyektif, temporer, selalu berubah dan tidak menentu
 Mengajar adalah memindahkan pengetahuan pembelajar kepada pebelajar Mengajar adalah menata lingkungan belajar agar pebelajar termotivasi untuk menggali makna-makna/ pengetahuan-pengetahuan
 Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya apa yang dipahami guru itu pula yang harus dipahami siswa Siswa akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan, bergantung pada pengalaman dan perspektif yang digunakan dalam menginterpretsikannya
 Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isinya  Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada ketrampilan berfikir kritis, analitis, membandingkan, generalisasi, memprediksi dan menghipotesis
 Tujuan pembelajaran menekankan penambahan pengetahuan  Tujuan pembelajaran menekankan belajar bagaimana belajar (learn how to learn)
 Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan dikategorikan sebagai perilaku yang pantas diberi hadiah Kegagalan dan keberhasilan, kemampuan dan ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda. Keduanya perlu dihargai
 Dalam evaluasi menuntut satu jawaban benar


Penekanan evaluasi individual
Dalam evaluasi menggali munculnya berpikir divergent, pemecahan ganda, bukan hanya satu jawaban benar Penekanan ketrampilan proses dalam kelompok

Jadi pengajar beraliran behaviouristik akan mengedepankan keseragaman demi keteraturan melalui penegakan aturan, sedangkan pengajar beraliran kognitif konstruktivistik berupaya mengelola keniscayaan keragaman dalam penataan lingkungan belajar yang kondusif agar pebelajar termotivasi dalam belajar. Orientasi dalam pembelajaran tidak bersifat teacher centered ataupun student centered, konstruktivisme memposisikan kesetaraan guru-siswa dalam proses pembelajaran sehingga memungkinakan terjadinya proses elaborasi terhadap prinsip-prinsip dan konsep yang dipelajari guna membangun pengetahuan baru yang bermakna.

Tentu saja untuk menyiapkan guru konstruktivis diperlukan semacam pelatihan-pelatihan agar guru mampu menerapakan model-model pembelajaran yang melibatkan dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan eksplorasi keilmuan. Saat ini terdapat kurang lebih 10-50 model pembelajaran yang diacu depdiknas untuk memenuhi tuntutan KTSP 2006. (Tutut-SMA YPK)